Repository Universitas Pakuan

Detail Karya Ilmiah Dosen

Yuli Mulyawati, Dadang Kurnia

Judul : PERBEDAAN INTERAKSI SOSIAL ANTARA ANAK SULUNG DAN BUNGSU
Abstrak :

                                                                                                                               ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan interaksi sosial antra anak sulung dan bungsu pada siswa kelas IV, V, dan VI SDN Kencara 01 Kota Bogor Tahun Ajaran 2019/2020. Jenis desain penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas kelas IV, V, dan VI SDN Kencara 01, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 81 orang siswa. Pengambilan sampel yang digunakan adalah sample random sampling, uji kesetaraan dengan memberikan angket . Pada penelitian setiap kelas mendapatkan perlakuan yang sama. Data perbedaan interaksi sosial anak sulung dan bungsu dikumpulkan menggunakan angket Berdasarkan hasil penyebaran angket dapat diketahui bahwa jumlah responden yang ikut serta pada penelitian sebanyak 81 siswa. Untuk variabel interaksi sosial jumlah keseluruhan skor dengan jumlah 21030 dengan skor tertinggi 305 dan skor terendah 201 dengan rentang skor 104. Rata-rata 259.63 dengan median 261 dan modus 271 dengan nilai varian sampel 491.336 serta standar deviasi sebesar 22.1661 Berdasarkan kurva di atas didapatkan hasil H0 ditolak karena thitung (10,81) > ttabel (1,984) yang menunjukkan Ha diterima yang berarti koefisien interaksi sosial adalah signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan interaksi sosil antara anak sulung dan bungsu.

Tahun : 2020 Media Publikasi : Jurnal Nasional Blm Akreditasi
Kategori : Jurnal No/Vol/Tahun : - / - / 2019
ISSN/ISBN : -
PTN/S : Universitas Pakuan Program Studi : PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
Bibliography :

DIFFERENCE OFSOCIAL INTERACTION ABOUT OLDEST CHILD AND YOUNGEST CHILD Windy Hindarti1 , Yuli Mulyawati2 , Dadang Kurnia3 ABSTRACT This research’s aims to know the difference of social interaction about oldest child and youngst child of SDN Kencana 1 Kota Bogor in academic year 2019/2020.This type of research design is quantitative descriptive with the population of this study are all grade IV, V, and VI grade students of SDN Kencara 01, the number of samples in this study were 81 students. The sampling used was sample random sampling, test of equality by giving a questionnaire. In the study, each class received the same treatment. Data on the differences in social interactions among the oldest and youngest children were collected using a questionnaire. Based on the results of the questionnaire distribution, it can be seen that the number of respondents who participated in the study was 81 students. For social interaction variables, the total number of scores with the number 21030 with the highest score is 305 and the lowest score is 201 with a range of scores 104. The average is 259.63 with a median of 261 and mode 271 with a variant value of the sample 491.336 and a standard deviation of 22.1661 rejected because tcount (10.81)> ttable (1.984) which shows Ha accepted, which means the coefficient of social interaction is significant, so it can be concluded that there is a positive and significant social interaction between the eldest and youngest children. Keywords: Oldest Child, Youngest Child, Social Interaction 3 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan anak merupakan elemen penting yang tidak dapat diabaikan oleh siapapun terutama orangtua. Pendidikan ini merupakan proses untuk menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui proses belajar mengajar. Pendidikan dalam arti luas terkandung pengertian mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Sekolah merupakan salah satu institusi pendidikan yang mendidik seseorang untuk dapat mempelajari bidang tertentu secara formal. Anak di dalam kelas pasti menghadapi kegiatan pembelajaran, didalamnya terdapat proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh berbagai macam ilmu pengetahuan dan berbagai pengalaman baru yang diwujudkan melalui bentuk perubahan tingkah laku kearah yang lehih baik. Manusia yang berkualitas menjadi faktor penting dalam memajukan kehidupan bangsa serta bersaing dengan bangsabangsa lainnya. Anak merupakan anugerah dari Allah SWT, oleh karena itu anak perlu mendapatkan haknya sebagai anak. Jika dilihat dari status anak dalam keluarga, anak terdiri dari anak sulung dan bungsu. Sebetulnya tidak ada perbedaan antara anak sulung ataupun bungsu. Seperti halnya anak bungsu, biasanya perlakuan orangrua lebih berkurang karena sudah lelah mengurus si sulung dan kakaknya yang lain. Lalu orangtua memberikan kebebasan yang luas untuk keputusan anaknya untuk mengambil keputusan apapun. Lain halnya dengan anak sulung, biasanya ketika anak tersebutbelum mempunyai adik, orangtua fokus untuk mengawasi segala gerak-gerik anaknya selama melakukan kegiatan apapun, terlebih jika melakukan kegiatan di luar rumah pasti anak tersebut lebih diawasi dan lebih dikhawatirkan. Penelitian dilakukan oleh Nofia Susanti Siregar tahun 2011 dengan judul Perbedaan Kecerdasan Emosi antara Anak Sulung dan Bungsu bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan kecerdasan emosi antara anak sulung dan anak bungsu. Penelitian ini adalah penelitian populasi dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 64 orang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan skala Kecerdasan Emosi. Data penelitian tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis komparasional, dengan menggunakan bantuan komputer program Statistical Product and Servic solution (SPSS) model 11,5 dengan hasil adanya perbedaan kecerdasan emosi yaitu pada anak sulung tidak dapat mengatasi emosinya dengan baik dan cenderung mudah untuk marah yang menghasilkan bahwa kecerdasan emosi anak sulung dan anak bungsu berbeda secara signifikan. Kecerdasan emosi anak bungsu lebih tinggi dibandingkan dengan anak sulung. Karena anak bungsu lebih bersifat manja terhadap orang tuanya . Penelitian yang selanjutnya juga dilakukan oleh Hafidyani (2011). Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan antara interaksi sosial anak sulung dan bungsu dengan populasi sebanyak 60 orang yang terdiri dari 30 anak sulung dan 30 anak bungsu. Hasil dari 4 penelitian tersebut terlihat bahwa anak sulung dapat lebih mudah untuk berinteraksi sosial, sedangkan anak bungsu asih perlu bimbingan untuk berinteraksi dengan teman sebaya khususnya. Anak-anak pasti berinteraksi dengan orang lain, contohnya dengan teman sebaya, guru, kepala sekolah, dan warga sekolah lainnya. Interaksi tersebut dapat disebut pula sebagai intersaksi sosial. Interaksi sosial di dalam sekolah seringkali diabaikan, hal tersebut disebabkan karena kurangnya daya tanggap anak terhadap komunikasi yang sedang berjalan. Lalu ketika diperintahkan berdiskusi dengan teman kelompok, anak tersebut malah acuh tak asuh dengan perintah tersebut. Seringkali ada yang bengong, memainkan kertas dan lain sebagainya. Hal tersebut tidak adanya kegiatan interaksi sosial di dalam kelas tersebut. Interaksi siosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu anak yang dapat dikategorikan sebagai anak yang bisa berinteraksi sosial dengan baik atau pandai bergaul dan sebaliknya yaitu anak yang mengalami kesulitan bergaul atau individu yang tidak bisa berinteraksi sosoal dengan baik. Anak yang bisa berinteraksi sosial dengan baik biasanya dapat mengatasi berbagai persoalan di dalam pergaulan. Mereka tidak mengalami kesulitan untuk menjalani komunikasi dengan teman baru, berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan, dan dapat mengakhiri pembicaraan tanpa mengecewakan atau menyakiti orang lain. Penelitian dilakukan oleh Rabiatul Adaweiyah tahun 2016 bahwa anak sulung dan anak bungsu berbeda dalam hal melakukan interaksi sosialnya, anak sulung sudah mampu mengembangkan sosialnya secara baik dan dapat memahami bagaimana sikap sosial yang bisa diterapkan dilingkungannya sehingga ia dapat diterima dilingkungannya sedangkan anak bungsu masih membutuhkan bimbingan dalam mengembangkan sikap sosialnya hal ini dikarenakan anak bungsu kurang memahami bagaimana cara berintraksi sosial yang dapat diterima dilingkungannya. Diharapkan orang tua maupun pendidik lebih memperhatikan perkembangan sosial anak dengan memberikan kegiatan maupun bimbingan yang lebih mendalam. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ellyzia Vinidya Pangestika, Yari Dwikurnaningsih, dan Sapto Irawan tahun 2017 menghasilkan bahwa anak sulung lebih mandiri dibandingkan dengan anak bungsu. Sekolah menjadi media untuk berinteraksi sosial. Dalam kenyataannya setelah peneliti melakukan observasi dan wawancara kepada perwakilan guru kelas IV, V, dan VI memang cara berinteraksi sosial anak sulung dan bungsu itu berbeda, yang disebabkan oleh beberapa faktor. Terutama faktor keberanian untuk saling bertegur sapa sesame teman atau guru. Dalam hal ini anak sulung lebih berani karena diposisikan sebagai kakak dalam keluarganya, lain halnya dengan anak bungsu anak tersebut cenderung pendiam dan tidak percaya diri untuk memulai berinteraksi dengan teman sebaya khususnya atau dengan warga sekolah. Interksi sosial siswa yang baik akan menciptakan hubungan yang harmonis. Bentuk-bentuk interaksi sosial yang baik akan menciptakan hubungan yang harmonis. Bentuk-bentuk interaksi 5 sosial yang baik dapat dilihat dengan adanya suatu kerjasama, saling menghormati dan saling menghargai. Sebaliknya, interaksi sosial siswa yang tidak baik, ditandai dengan hubungan antar siswa diliputi rasa kebencian, saling menjatuhkan, dan terbentuknya kelompok teman sebaya dimana masing-masing kelompok saling menyerang sehingga akan menciptakan hubungan yang kurang harmonis diantara anak. Interaksi sosial yang tidak baik di lingkungan sekolah juga akan menciptakan suasana belajar yang kurang nyaman atau kondusif. Hal semacam ini akan menghambat kemajuan anak dalam proses pembelajaran karena kurangnya kerjasama, komunikasi, dan anak kurang menghargai anak yang lain sehingga sering menimbulkan suasana belajar yang selalu gaduh, tegang, sering rebut, timbulnya pertengkaran, perkelahian, dan sebagainya, lingkungan seperti ini akan menyebabkan anak terganggu dalam prestasi belajar anak. Selain itu, adanya anak yang sibuk sendiri dengan handphone sehingga tidak ada interaksi dengan temannya. Mereka asik sendiri dengan bermain game di handphonenya masing-masing. Interaksi sosial pun sudah pernah diteliti oleh Desi Listriani di SDN Gugus Dewi Kunthi tahun 2016 yang menghasilkan bahwa interaksi sosial di sekolah tersebut sangat rendah dengan subjek penelitian 60 orang. Penelitian selanjutnya diteliti oleh Anggar Ratman tahun 2015 dilakukan di kelas IV, V, dan VI di SDN Bayusoco hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mendukung interaksi sosial anak berkesulitan belajar berupa imitasi, sugesti internal dan eksternal, identifikasi, simpati dan komunikasi sangat rendah dan memerlukan pendampingan orangtua, guru, dan teman sebaya secara khusus. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dian Ambarwati 2016 tentang hubungan konsep diri dengan interaksi sosial siswa di SD Negeri se-Kecamatan Margangsan dengan hasil penelitian terdapat hubungan positif antara konsep diri dengan interaksi sosial di kelas IV. Hal tersebut menghasilkan bahwa pengalaman hasil interaksi sosial akan memberikan pandangan baru terhadap diri anak dan menggambarkan anak yang kurang berinteraksi disebabkan kemampuan akademik yang kurang dan sering dijauhi teman. Tanpa interaksi sosial, tidak akan mungkin ada kehidupan bersama-sama. Bertemunya orang perorangan secara badaniyah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia dapat bekerja ama, saling berbicara, berkomunikasi dan seterusnya. Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, maka peneliti akan mencoba melakukan penelitian ini di SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor dengan karakter anak kelas Penelitian ini dilakukan di SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor dengan karakter siswa kelas IV, V, dan VI SD. Penelitian ini berjudul “Perbedaan Interaksi Sosial Anak Sulung dan Bungsu Pada Siswa Kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kota Bogor”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut : 6 1. Adanya status anak yang memacu dalam berinteraksi sosial. 2. Adanya kondisi anak yang sulit untuk berinteraksi di sekolah. 3. Adanya asumsi bahwa terdapat perbedaan antara interaksi sosial antara anak sulung dan bungsu. 4. Adanya anak bungsu yang sulit untuk bersosialisasi di lingkungan sekolah. 5. Adanya urutan kelahiran mempengaruhi kegiatan interaksi sosial khususnya di lingkungan sekolah. C. Batasan Masalah Batasan masalah mengenai penelitian ini mengenai hubungan antara interaksi sosial dengan status anak pada siswa kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kota Bogor. Penelitian ini diambil menurut pengetahuan dari siswa, oleh karena itu pengambilan data diperoleh dari jawaban siswa itu sendiri. D. Rumusan Masalah Dari batasan masalah yang tertuang di atas, maka dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana kecenderungan interaksi sosial anak sulung kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020? 2. Bagaimana kecenderungan interaksi sosial anak bungsu kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020? 3. Apakah terdapat perbedaan interaksi sosial antara anak sulung dan bungsu kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020? E. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah yang tertuang di atas, maka dapat tujuan penelitian sebagai berikut : 1.Untuk mengetahui kecenderungan interaksii sosial anak sulung kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020? 2.Untuk mengetahui kecenderungan interaksi sosial anak bungsu kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020? 3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan interaksi sosial antara anak sulung dan bungsu kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020. F. Manfaat penelitian Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas IV, V, dan VI SDN Kencana 1 Kecamatan Bogor Tanah Sareal Tengah Kota Bogor tahun ajaran 2019/2020 ini diharapkan memberikan manfaat untuk berbagai pihak, baik dari segi teoritis maupun praktis guna untuk memajukan kualitas sekolah tersebut. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat teoritis a. Untuk memberikan informasi tentang perbedaan interaksi sosial anak sulung dan bungsu. b. Sebagai bahan kajian untuk dilakukan bahan penelitian selanjutnya terkait dengan perbedaan interaksi sosial anak sulung dan bungsu. 2. Manfaat Praktis 7 a. Bagi Siswa Dapat memberikan motivasi terhadap siswa dalam meningkatkah hasil belajar siswa, dan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. b. Bagi Guru Dapat dijadikan bahan evaluasi bahwa terdapat faktor eksternal yang dapat mempengaruhi proses interaksi sosial siswa dengan status anak. c. Bagi Sekolah Dapat meningkatkah mutu kualitas sekolah melalui cara berinteraksi sosial siswa dengan status anak itu sendiri. d. Bagi Peneliti Peneliti dapat menjadikan penelitian ini sebagai acuan dalam mengajar agar memahami kondisi siswa saat berinteraksi sosial. KAJIAN TEORETIK A. Kajian Teoritik 1)Anak Sulung dan Anak Bungsu a) Pengertian Anak Sulung Anak sulung merupakan anak yang lahir pertama kali dari suatu keluarga dan menjadi kaka bagi adik-adiknya kelak, lain halnya dengan anak bungsu, anak bungsu merupakan anak terakhir yang biasanya memiliki sifat manja dan kurang mandiri juga selalu bergantung kepada orang tuanya. Pengrtian ini seperti yang dikemukakan oleh Gunarsa, (2010:170) Anak sulung adalah anak yang paling tua atau anak pertama yang lahir dari suatu keluarga. Karena anak tersebut adalah anak sulung maka berarti pengalaman merawat anak, pengalaman mendidik anak belum dimiliki oleh kedua orangtuanya. Sejalan dengan pendapat Gunarsa, anak sulung dan anak bungsu dikemukakan Friedman (2011 :140) Anak sulung pada awalnya selalu menjadi anak terfavorit karena mereka adalah pertama namun kemudian mereka harus belajar untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka bukanlah lagi fokus utama dan bahwa orangtua mereka harus membagi perhatiannya dengan saudaranya yang lain Kecerdasan anak pertama cenderung berkembang lebih cepat karena bisa (dan seringnya juga dituntut untuk) mengajari adik-adikny tentang dunia sekitar. Untuk bisa mengajarkan orang lain, seseorang dituntut untuk memiliki pemahaman kognitif yang lebih tinggi. Anak pertama perlu menggali pengetahuan yang sudah mereka dapat sebelumnya dan mengolahnya, untuk kemudian bisa dijelaskan kepada adik-adiknya dengan cara yang mudah dimengerti. Hal ini bisa menjadi dorongan kuat bagi potensi kecerdasan pada anak pertama. Dalam hal ini menurut Jurnal of Human Resources tahun 2016, Anak sulung adalah anak yang cenderung lebih cerdas. Karena anak sulung lebih banyak stimulasi mental pada masa awal pertumbuhan. IQ mereka pun lebih tinggi sejak usia setahun. Berbeda dengan teori yang dikemukakan para ahli sebelumnya, pengertian anak sulung dan anak bungsu menurut Hurlock, (2013:111) Jurnal Nilma Universitas Negeri Padang anak sulung adalah anak yang terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang yang tetap dari ibu, sehingga lebih mudah dirusak oleh keterlantaran emosional dibandingkan anakanak yang lahir kemudian. Penjelasan anak sulung dan anak bungsu, anak sulung lebih menjadi anak yang dianggap memiliki pengalaman hidup yang paling lama, dan anak bungsu biasanya menjadi pusat perhatian orang tua. Hal tersebut selaras yang dipaparkan oleh Simanjuntak & Pasaribu, (2015:69). Anak sulung sebagai anak yang pertama kali 8 dilahirkan dalam sebuah keluarga, tentu lebih berpengalaman hidup. a. Pengertian Anak Bungsu Anak bungsu cenderung bersifat ketergantungan dan tapi sangat bersemangat (dependent and but very alive). Permasalahan yang sering muncul biasanya berawal dari anak bungsu. Anak bungsu memiliki tingkat kepercayadirian yang lemah dan tingkat penyesuaian diri yang kurang. Anak tersebut lebih bersifat tertutup. Anak yang tertuup biasanya anak yang lebih dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh Gunarsa, (2010:170) dan Friedman (2011 :140) Anak bungsu adalah anak yang dimanjakan, kemungkinan ia akan menjadi anak yang bermasalah dan menjadi orang dewasa yang neurotik dan tidak mampu menyesuaikan diri. Bayi sering kita kenal sebagai anak kecil yang baru lahir. Sama halnya seperti anak bungsu yaitu anak yang tidak mampu secara abstrak menerima ilmu, ia cenderung lebih sulit dibandingkan kakaknya. Tingkat motivasi dirinya sendiri pun rendah. Jadi anak bungsu perlu support atau dukungan dari orang sekitar terutama kedua orangtuanya. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Jurnal of Human Resources tahun 2016 mengemukakan Anak bungsu adalah anak yang cenderung lebih lambat untuk menerima ilmu atau pembelajaran . Anak bungsu dikatakan sebagai “bayi dalam keluarga”, karena mereka selalu mendapatkan bantuan dari orang lain, mereka menjadi individu yang cepat putus asa apabila mengalami suatu tantangan tanpa bantuan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan menurut Hurlock, melakukan sesuatu sendiri dan mencoba berbuat sebaik mungkin. Simanjuntak & Pasaribu, (2015:69) berpendapat bahwa Anak bungsu seringkali menjadi pusat perhatian dan tempat curahan kasih sayang orang tua termasuk anggota keluarga yang lain karena anggota keluarga yang paling kecil. METODE PENELITIAN Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, yang dilaksanakan di SDN Kencana 01 Kota Bogor Tahun Ajaran 2019/2020. Metode penelitian deskriptif kuantitatif menurut Sugiyono (2017:107) dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari perbedaan antara dua hal yang berbeda yiatu interaksi sosial anak sulung (X) dan variabel terikat (Y) yaitu interaksi sosial anak bungsu. Adapun waktu penelitian ini berlangsung dari tanggal 16-19 September 2019. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu simple random sampling, sampel yang digunakan adalah 81 siswa, 9 siswa kelas IV A, 9 siswa kelas IVB, 9 siswa kelas IVC, V-A, V-B, V-C, VI-A, VI-B, dan VI-B. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa angket non tes menggunakan angket sebanyak 76 butir pernyataan. Teknik Analisis Data Analisis Statistik deskriptif data penelitian tediri dari : a. Menghitung Range (R) R = Nilai Tertinggi – Skor Terendah b. Menentukan Interval Kelas (K) K = 1 + 3,3 Log (n) c. Menentukan Panjang Kelas (P) P = ๐‘… (2013:111) Jurnal Nilma Universitas Negeri ๐พ ฬ… Padang Anak bungsu dikatakan sebagai “bayii dalam keluarga”, karena mereka selalu mendapatkan bantuan dari orang lain, mereka menjadi individu yang cepat putus asa apabila mengalami suatu tantangan tanpa bantuan orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak mampu memotivasi dirinya untuk d. Menghitung Rata-rata (Mean = ๐‘‹) ๐‘€๐‘’๐‘Ž๐‘› = ๐œ‹ = ∑ ๐‘“๐‘– .๐‘ฅ๐‘– ๐‘› e. Menghitung Modus Mo = Tb + P ( ๐‘1 ) ๐‘1+๐‘2 f. Menghitung Median (Me) 1 ๐‘›−๐น๐‘˜ Me = Tb+ (2 )P ๐‘“ 9 g. Varians sample S² = ๐‘› ∑ ๐‘Œ²−(∑๐‘Œ²) ๐‘›(๐‘›−1) h. Standar Deviasi SD = √ ∑(๐‘‹−๐‘‹2) ๐‘›−1 Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui uji-t. Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu melakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data skor hasil belajar siswa masing-masing berdistribusi normal atau tidak. Uji homogenitas varians digunakan untuk menguji apakah sebaran data tersebut homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansinya. Uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data tersebut berdistribusi normal. Setelah data lulus uji prasyarat kemudian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis uji-t untuk sampel berpasangan. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil uji coba instrumen terhadap 100 butir pernyataan variabel interaksi sosial diperoleh instrumen valid sebanyak 76 butir (76%) dengan koefisien reliabilitasnya sebesar 0,745. Hasil penelitian dari variabel interaksi sosial selanjutnya dianalisis dalam bentuk deskriptif statistik seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4.1 Deskriptif Statistik Data Hasil Penelitian Varian Sampel (G²) 491.336 Standar Deviasi (SD) 22.1661 Total Skor 21030 Berdasarkan tabel data statistik deskriptif hasil penelitian di atas, maka dapat diketahui bahwa jumlah responden yang ikut serta pada penelitian sebanyak 81 siswa. Untuk variabel interaksi sosial jumlah keseluruhan skor dengan jumlah 21030 dengan skor tertinggi 305 dan skor terendah 201 dengan rentang skor 104. Rata-rata 259.63 dengan median 261 dan modus 271 dengan nilai varian sampel 491.336 serta standar deviasi sebesar 22.1661. Uji Normalitas Uji normalitas galat baku taksiran dilakukan untuk mengetahui normal atau tidak normal suatu distribusi data.untuk mengujinya menggunakan ujie Liliefors pada interaksi sosial dengan syarat jika Lhitung > Ltabel maka galat baku taksiran tidak normal dan jika Lhitung < Ltabel maka galat baku taksiran normal. Tabel 4.4 Rangkuman Uji Normalitas Galat Baku Taksiran Lhitung Ltabel Kesimpulan Variabel Y 0.93843 865 0.066666 67 Tinggi Syarat Normal Lhitung < Ltabel Data Interaksi Sosial (Y) Berdasarkan perhitungan uji normalitas data Interaksi sosial (Y) yang telah diuji menggunakan metode uji Liliefors, menunjukan Lhitung=0.93843865 < Ltabel = 0.06666667 yang berarti Lhitung lebih kecil dibandingkan dengan Ltabel. Sehingga variabel interaksi sosial anak Sulung (X) dan Interaksi sosial anak bungsu (Y) berdistribusi normal. Berdasarkan tabel 2.1 di atas, diketahui bahwa nilai Ltabel=0.06666667, sedangkan Lhitung 0.93843865 berkontribusi normal. Unsur Statistik Variabel Y Jumlah Responden 81 Skor Minimum 201 Skor Maksimum 305 Rentang Skor (Range) 104 Rata-Rata (Mean) 259.63 Median 261 Modus 271 10 Uji Homogenitas Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas interaksi sosial diperoleh Fhitung sebesar 1,50 untuk sampel 81 dan taraf signifikasi α= 0,05 diperoleh Ftabel sebesar 3,88. Maka jika H0= Fhitung > Ftabel berarti varians data tidak homogen. Sedangkan jika H0= Fhitung < Ftabel berarti varians data homogen. Tabel 4.5 Rangkuman Uji Homogenitas Data Interaksi Sosial (Y) Varian s yang diuji Jumla h samp el Fhitung Ftabe l Kesim pulan Interak si Sosial 81 0,25 1,53 Homo gen Syarat homogen Fhitung < Ftabel Analisis Regresi Linear Sederhana Untuk memperjelas hubungan antara variabel interaksi sosial berdasarkan hasil perhitungan uji signifikasi dan dinyatakan dalam bentuk regresi ลถ = a + bx. Tabel 4.6 Rangkuman Persamaan Regresi Konstanta (a) Konstanta (b) Persamaan regresi (ลถ = a + bx) 0,5418 20,89 0,58418 + 20,89x Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh konstanta a= 0,5418 dan konstanta b = 20.89dengan demikian terdapat hubungan fungsional antara efikasi diri dengan kemandirian belajar dalam bentuk persamaan regresi. 1. Uji Signifikansi Regresi Uji signifikansi regresi digunakan untuk mengetahui apakah variabel X berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y dengan syarat Fhitung > Ftabel. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Sumber varians D k ( d f ) JK (SS) JK Fh itu ng Fta bel Kesi mpul an Total 2 1 0 656 451 7 - Regresi (a) 1 638 269 2,00 6382692,0 0 Regresi (bโ”‚a) 1 650 57,0 1 65057,01 11 5, 88 3,8 9 Signif 

URL :

 

Document

 
back